Latest Entries »

Love is the sweetest rose

Kamis malam, minggu kedua bulan keempat, tahun ke sekian dalam hidupku.


Love is the sweetest rose, demikian sebuah kalimat dari syair yang di lantunkan George baker, seorang vokalis pop kesohor dunia. Di mulai dengan irama yang santai di lanjutkan dengan iringan ringan reggae slow.

Betapa dasyat sebuah cinta, mengakibatkan cinta di gambarkan dengan sejumlah kalimat memukau, yang dalam resleksi diri tentu mewakili rasa kebahagiaan tertinggi, yang adalah puncak dari kehidupan. Masing masing orang memiliki cara mewujud nyatakan cinta dalam bentuk karya yang beragam.

Berulang kali cinta di ucapkan mulai dari rumah ibadat, di jalan jalan di bawah gempuran bom dan peluruh mematikan. Sebagai sebuah kata cinta sudah bukanlah suatu yang wah, sama halnya dengan kata lain. Tetapi makna di balik kata ini menjadi mahligai yang kerap mengorbankan segalah sesuatu termasuk diri.

Lagu, puisi, karya seni, bahkan perang sekalipun terkadang lahir atas nama cinta. Karena rasa mencintai atau di cintai, subyek tertentu mampu melakukan apa saja, sebagai upaya penemuan esensi cinta itu sendiri.

Dengan demikian orang sering berkata bahwa cinta adalah sebuah misteri dalam kehidupan manusia, terlepas dari hal yang bersifat sektarian seperti agama, dogma, ideologi, suku, bangsa dan seterusnya.

Cinta mengilhami manusia ketika berhadapan dengan sebuah realitas yang mengikat dan membebaskan, ketika di rasa mengikat maka subjek akan mencoba membebaskan dan sebaliknya ketika di anggap bebas maka akan coba di ikat.

Pada bagian lainya hal sekatarian mulai berpengaruh memberikan bumbu seperti apa cinta yang seharusnya, mulai di persempit pada definisi umum dan spesifik bahkan sampai pada apa yang benar dan salah.

Ego manusia sebagai mahluk berakal terus menggerogoti cinta yang maha luas dan maha tinggi dalam kotak cara berfikir yang di bungkus ego dan kepentingan akan sebuah tata nilai yang di yakini sebuah kebenaran absolut dan keharusan.

Kemudian cinta yang tadinya adalah semesta menjadi secuil aturan moralis dalam hidup manusia, yang tidak mangikat manusia secara personal. Hal ini ada baiknya karena cinta adalah adalah sebuah kebebasan, tetapi pada bagian lain karena moralis, jika perlu boleh di lakukan. Bukan lagi sebagai suatu yang maha.

Agama samawi monotheis meyakini kisah awal penciptaan alam semesta dan isinya adalah karena cinta sang Kholiq, artinya tidak hanya mahluk berakal (manusia) saja yang tercipta karena cinta tetapi juga rumput dan batu di injak, pohon yang di tebang, manusia yang terbunuh, adalah juga bagian yang di cintai-Nya.

Kisah kehidupan manusia pertama di taman eden (adam dan eva) adalah sebuah ilustrasi akan ketamakan, keserakahan, kerakusan manusia, sebuah watak sebagai penindas, merasa diri berakal lalu berdiri dengan gagah tampa merasa salah pada nubuat lain di sekitar.

Akhirnya Rasa sebagai sebagai sebuah kesatuan semesta dari Sang Adhi ataupun evolusi natural hanya terdengar samar dalam lirik one love karya Rastafarian Bob marley dan yang pasti sang legendaris reggae menyampaikan lagi bahwa love is all

Note:
Ini sebuah tulisan lepas sebelum tidur, semoga sekalian pembaca mengambil peran dalam merefleksikan sejauh mana cinta itu ada, dan baik bila ada pendapat, sekalipun berbedah sungguh sangat di hargai karena cinta adalah kebebasan, ekspresikan itu selama itu mungkin, semoga…!!

Bohong yang Menyelamatkan !!!

sebuah cerita mythe dari satu di pegunungan papua sebelum datangya agama timur tengah hendak saya ketegahkan.

Di sebuah lembah yang di kelilingi gunung terjal hiduplah satu keluarga, mereka hanya bertiga yakni ayah ibu dan anak laki laki. Mereka hidup dalam kecukupan, hasil kebun yang melimpah karena tanah yang subur, serta ternak babi yang cukup banyak jumlahnya.
mereka sangat jarang bersua dengan sanak keluarga, untuk berjumpa mereka harus memanjat gunung yang membentang melingkari lembah tersebut.

Anak mereka yang satu satunya ini tumbuh terus hingga cukup umur untuk berburuh sendiri, walau masih tidak jauh dari rumah mereka, dia juga membuat kebun sendiri serta membuat gubuk sendiri. tanggung jawab yang di berikan pun kian bertambah sesuai dengan usia perkembangannya.Mereka hidup dalam aturan adat yang cukup ketat, jumlahnya melebihi sepuluh peritah ala agama kristen. Tata aturan itu mengatur hingga hal yang tampak sepeleh seperti; di larang menangkap burung dalam sarang, hanya bisa di buruh jika burung sudah besar.

suatu ketika sang ibu sedang di kebun dan ayah sedang pergi berburuh untuk waktu yang cukup lama. si anak melihat asap di puncak gunung, di mana persis di sebelahnya hidup sekelompok orang jahat atau setan.
anak ini mengenang kembali apa yang pernah di ceritakan ayahnya dahulu bahwa jika ada asap di puncak gunung itu akan ada bencana bagi orang dewasa. konon kedua orang tua ayahnya terbunuh oleh kelompok tersebut.
dengan sangat takut anak ini berlari menjumpai ibunya dan mengatakan apa yang baru saja di lihat.
mereka mengatur rencana sembunyi. sesuai tradisi agar tidak terlihat dan tercium oleh setan, maka ibu tersebut melumuri dirinya dengan lumpur bekas kubangan babi, lalu bersembunyi di kolong rumah. sementara ayahnya yang pergi berburuh sudah malam ketiga belum juga pulang dari tempat berburuh.Jelang sore, langit berubah warna menjadi kuning kemerahan. tiba tiba sekelompok orang sudah berdiri depan rumah. tampang mereka seram, berbadan tinggi dan memiliki rambut gimbal dan panjang hingga ke tulang belakang, hanya memiliki satu mata yang tetletak di dahi.
Tanpa banyak bicara mereka masuk dan mencium seisi rumah, si anak hanya diam dalam ketakutan yang bukan kepalang. selang beberapa saat, dengan dialek yang agak sukar di mengerti, seorang di antara mereka bertanya pada sang anak “kemana orang tuamu”. dengan gemetar anak ini menjawab: “ayah saya sudah meninggal sementara ibu saya di jemput paksa saudara saudaranya untuk di kawinkan lagi dengan laki laki lain di kampungnya, saya sendiri tinggal di rumah ini”. mendengar itu, seorang yang sejak tadi mengamati anak tersebut mengatakan “anak ini terlalu pahit mari kita pergi mencari di tempat lain, nanti dia akan kami ambil jika sudah waktunya”.

sepanjang malam itu ibunya tidur beralaskan tanah, dan lumpur yang mengering di sekujur tubuhnya.Keesokan harinya sang ibu keluar dari persembunyian, memeluk sang anak lalu menangis sambil mengucapkan terima kasih pada anaknya yang berani itu.

Siang hari itu, ketika mentari persis di atas kepala, sang ayah tiba dari tempat berburuh, ibu menceritakan kejadian tersebut termasuk keberanian anak tunggal mereka, mendengar cerita itu sang ayah memeluk anak tunggalnya dan berkata sebagai anak laki laki, demikian seharusnya engkau berlaku.Dari sekian cerita mythe yang pernah saya dengar kira kira cerita ini, pantas menjadi contoh di mana bohong terkadang di perlukan untuk mempertahankan hidup.
jika saja anak ini jujur maka ibunya yang sedang bersembunyi di kolong rumah di tangkap dan menjadi santapan mereka dan mungkin nasib sama menimpah ayahnya yang sedang berburuh.

Cerita ini muncul di daerah di pegunungan papua ketika belum ada agama yang masih memegang teguh nilai adat termasuk tidak menipu.
anak tersebut di puji keberanian dan kebohongan yang di lakukannya. dan cerita ini menjadi inspirasi bahwa manusia harus di lindungi dari maksud jahat, tak soal apapun caranya……..

semoga sharing ini bermanfaat . . . salam.

###

17 tahun lalu ia di lahirkan dan di beri nama Agnes Lestari. Kini sebagai orang kepercayaan di lingkungan paroki tersebut, Oleh Pastor kepala Agnes di percaya Sebagai pendamping misdinar, terkadang dia juga membantu Pastor mempersiapkan misa ekaristi, Agnes menguasai tata perayaan dalam gereja katolik dengan baik. Sejak masih duduk di bangku SMP Agnes tinggal bersama para suster di sebuah biara yang letaknya tak jauh dari gereja. Biara yang di kelilingi oleh tembok yang tinggi, di atas tembok setinggi 1 meter lebih itu berjejeran tanamamn hias, bagian dalam tembok banyak terdapat anggrek serta bunga flamboyan, rose, dan banyak lagi jenis bunga lain, rumput yang mengihiasi taman terlihat seperti karpet hijau yang indah.

Agnes berasal dari keluarga petani sederhana, yang hidup di daerah transmigran wanggar sari, 15 KM sebelah barat Kota Nabire, keluarganya telah berada di Nabire sejak tahun 1980. Kehidupan mereka merupakan simbol keluarga campuran yang toleran, ibunya beragama katolik yang berasal dari, sleman – Yogyakarta, sementara Ayahnya beragama Islam yang berasal dari sidoarjo, Jawa timur. Walau berbedah agama, mereka hidup bersama dalam sebuah rumah sederhana dengan harmonis. Dari Lima anak yakni 1 perempuan dan 4 laki-laki. 3 orang beragama katolik sementara 2 beragama Islam, Agnes adalah salah satu yang beragama Katolik bersama dengan kedua saudara laki laki yang pertama dan ketiga, agnes sendiri anak ke empat.

* * *

Senyum manis mempesona serta kerama-tamahan senantiasa merias wajah ayu, seakan tidak pernah ada rasa marah, kesal dengki dalam lalui hari harinya. Hal ini membuatnya menjadi seorang gadis yang paling di sanjung oleh kawan-kawan serta adik adik dampinganya di lingkungan paroki sebuah gereja katolik di Kota Nabire.

Di antara sekian anak dampingaanya terdapat seorang anak yang terkenal cukup Bandel, oleh teman temanya di panggil Boy, nama lengkapnya adalah Bonifasius Yanto, merupakan anak tunggal yang paling di sayangi oleh kedua orang tuanya. Orang tua Boy beragama Kristen protestan dan berasal dari keluarga etnis china, ayahnya pengusaha sukses yang baru saja pindah dari Biak ketika itu.

Awalnya Boy hanya mengikuti beberapa kawan-kawannya yang beragama katolik. Pilihan boy ini tidak di persoalkan kedua orang tunanya. Sebagai anak pengusaha, boy mewakili tipikal yang berbedah dari biasanya ada, tidak ekslusif, terbuka dalam pergaulan tanpa memandang dengan siapa.

* * *

Tidak lama berselang kini boy dengan resmi menjadi umat katolik melalui pembinaan agama, serta ritual permandian dan komuni pertama, boy pun bergabung menjadi misdinar. Boy adalah murid kelas 3 pada sebuah SMP katolik di Nabire, sementara Agnes baru saja tamat dari sebuah SMU Negeri, namun masih belum melanjutkan study ke perguruan tinggi, sehingga waktu luangnya di isi dengan menjadi Pembina misdinar

Boy juga terkenal sangat nakal di sekolah dan juga agak reseh di komunitas misdinar yang di asuh Agnes, dengan demikian Boy mendapat perhatian khusus dari Agnes, berkali kali Boy di nasehati oleh Agnes dan setelahnya berjanji tuk tidak mengulanginya namun tetap saja berulang, sudah berkali kali orang tuanya di panggil ke sekolah namun tetap saja sama. Semua teman temanya dalam komunitas misdinar memandang sinis kelakuan si Boy, kini tinggal Agnes yang benar benar berharap Boy berubah dengan berulang kali dengan sabar menasehati.

Suatu ketika Agnes tidak sanggup lagi menahan rasa kesal dan marah ketika mendengar Boy sedang mabuk bersama beberapa teman sekolahnya. Sore harinya pada hari yang sama, Boy yang masih dalam keadaan belum sadar dari pengaruh minuman keras hadir dalam pertemuan komunitas misdinar, Tanpa basa basi melihat kehadiran Boy, Agnes yang sudah naik pitam berdiri di hadapan Boy yang sedang duduk berkelar bersama beberapa kawan misdinar lainya.

Agnes pun menghardik dengan suara lantang “Boy….. (Agnes memperhatikannya dengan air muka yang sudah memerah,)…….sampai kapan ko mau berubah ka? tra lama lagi, ko su mo masuk SMA, ko bikin diri macam anak kecil saja, periksa diri tuh, so besar baru masih macam anak kecil saja, dan ko ingat ee…….trada orang lagi yang akan cerewet dan pusing dengan ko pu kapala batu itu.

(Semuanya yang berada bersama Boy terdiam, dalam hati mereka tidak menyangka Agnes yang demikian baik menjadi sangat murka)….. Boy bulan depan neh sa mo pi ke yogya untuk pi masuk pendidikan di biara, sa mo pi jadi suster, Sa kasihan ko skali boy, ko tau trada lagi yang peduli deng ko, dong semua bosan liat ko pu kelakuan itu.

(Sambil menghela nafas panjang dan mata yang berkaca kaca, Agnes melanjutkan pembicaraan masih sambil berdiri)…… Boy, Boy . . .   ko tau sa yakin sekali, sa pu hati ni berkata bahwa satu saat nanti ko kan jadi orang suskses, sungguh kalo itu terjadi, boy ko tau sa ni orang paling bahagia selain ko pu orang tua, tapi kalo ko gagal, sa mungkin orang yang paling sedih …..” lalu sambil meneteskan airmata dan suara terseduh Agnes melanjutkan pembicaraanya, “boy . . sejak ko di sini sa selalu ingatkan ko, bahwa ko ni anak satu satunya, karna itu ko harus berubah, sapa yang nanti urus ko pu orang tua nanti kalo dong su tua, trus sapa yang lanjutkan usaha mereka, kalo bukan ko sapa lagi. Sa terus ingatkan ko baru, ko tambah kacoo lagi, sa ni bingung, apakah Tuhan yang harus kastau ko ka, sopaya ko berubah”

Sambil duduk di sampaing Boy yang sejak tadi diam menundukan kepala dan di kelilingi oleh teman teman misdinar yang lainya Agnes menggeser kursinya berhadapan dengan Boy lalu memegang pundak Boy “karena sa punya keyakinan yang kuat bahwa ko akan berubah maka sa juga tra bosan ingatkakan ko trus, tapi mungkin ini kali trakir sa mo kastau ko.

Agak lama terdiam, suasana sangat hening hanya terdengar bunyi kendaraan yang melintasi jalan utama yang tak jauh dari halaman gereja tersebut, Agnes sandar kembali ke kursi, sambil melipat tangannya, sambil memperhatikan boy yang sejak tadi tertunduk, tidak lama setelah itu Agnes melanjutkan pembicaraanya kini dengan suara yang agak serak dan terbata bata … Boy sa minta maaf eee…. Tadi sa terlalu kesal dengan ko, jadi sa berbicarah kasar ke ko, sebenanrya sa juga bangga dengan ko, ko ni anak yang tra manja, sa salut walau ko ni anak orang kaya, tapi tra pilih muka dalam bergaul, juga tra pamer ko pu harta kekayaan, paling penting lagi ko sangat sederhana”. Menarik nafas beberapa saat, sambil sesekali memandang langit langit gereja, kemudian kembali memperhatikanboy dengan agak tersenyum sebentar Agnes melanjutkan pembicaraanya “ Boy sahabatku ko liat saya” dengan agak malu dan raut muka yang memerah perlahan boy mengangkat kepalanya dan memperhatikan Agnes, kemudian Agnes berkata “ sa su coba paksa ko bikin janji sopaya tra ulang ko pu kelakukan tra laku itu tapi ko tra tepati truss, sekarang sa mo balik” sambil mengusap air mata yang menetes di pipi Agnes melanjutkan pembicaraanya “Boy sa mo janji sama ko, Suatu kelak nanti kalo sa dengar ko su berhasil, sa kan cari ko, datang sama ko hanya tuk ucapakan terima kasih sama ko dan sa janji akan berikan apa saja yang ko minta semampu saya sebagai wujud sa pu rasa syukur”

lama memperhatikan Boy yang masih terdiam dan sudah tertunduk memperhatikan lantai dan kaki kaki bangku yang berjejer rapih. Agnes berdiri sambil memegang kedua tangan Boy dan berkata sambil tersenyum “sekarang sa mo paksa ko lagi, kali ini di hadapan ko pu teman teman untuk kali terakhir supaya ko sepakat……” Boy pun mengangkat muka dan dengan sedikit malu malu “ mmmmmm…… (beberapa saat kemudian melanjutkan) ……. Iyo kk agnes sa setuju…. “ dan dengan suara serak dan tertunduk dengan suara yang hampir tak terdengar boy mengatakan “Maaf selama ini sa salah, sa juga minta maaf ke teman teman semua, selama ini sa buat kamu kesal”, dan kemudian tertunduk sambil meneteskan air mata. Melihat itu semua kawan komunitas ikut terharu dan memeluk Boy.

* * *

Sejak saat itu secara perlahan Boy berubah, orang tua dan guru serta teman temanya heran dengan perubahan yang di alami Boy, ia pun lulus SMP dengan nilai yang memuaskan, kini oleh Orang tuannya Boy di kirim untuk melanjutkan pendidikan di salah satu sekolah menegah di San Fransisko – Amerika Serikat, di sana dia tinggal bersama pamannya, adik dari ibunya yang telah menetap di amerika sejak 20 tahun lalu. Setelah menyelesaikan sekolah menengah, kini Boy di terima di University Of Barkley pada departemen Ekonomi.

Setelah setahun kuliah, suatu sore ketika Boy sedang melepas lelah dengan berbaring di apartemennya yang berada tak jauh dari kampusnya, tiba tiba telpon di kamarnya berdering ternyata itu telpon dari ibunya. Seperti biasanya mereka banyak bercerita tentang keadaan papa dan mama, boy pun bercerita tetang kuliahnya. Setelah panjang lebar bercerita, tiba tiba ibunya teringat sesuatu dan memberitahukan pada Boy bahwa ibunya telah bertemu dengan Suster Agnes, Boy kaget dan lansung memotong pembicaraan ibunya dan berkata : “o ya….., Mama…..apakah suster Agnes yang mama maksud adalah agnes yang dulu di Nabire itu” Ibunya membalas “ benar anakku, dia senang sekali ketika mendengar kabar tentangmu, Ibu cerita banyak tentang kamu” belum selesai ibunya bercerita Boy memotong seraya bertanya “dimana ibu berjumpa dan dia, maksud boy suster Agnes bertugas di mana”. Lama ibunya berfikir Lalu berkata: “kami berjumpa dalam penerbangan singapura – Jakarta, awal blan lalu ketika ibu pulang dari singapura sehabis menjenguk paman yang tinggal di singapura. Kata Suster Agnes, dia baru saja menyelesaikan study di roma, namun ibu belum sempat bertanya di mana Suster bekerja, dan kami akhirnya berpisah di cengkareng Jakarta” Agak lama Boy terdiam dan kemudian bertanya pada Ibunya “yahhhh…. mama, apakah mama tidak memintah nomor telpon atau alamat e-mail yang dapat ku hubungi tuk ucap terima kasih”. Ibunya menjawab: “maaf anakku, mama lupa, maafin mama ya”. Boy kemudian menyambut “ya sudah, tak apalah mah”

Setelah pembicaraan itu waktu pun terus berjalan, tak terasa boy telah menyelesaikan studi Undergraduate selama tiga tahun dan kini Boy melanjutkan program masternya ke inggris, ia di terima pada Oxford University berkat rekomendasi dari salah seorang professor yang di kenal ketika masih study di California.

Selama kuliah di Inggris, selain belajar boy juga menambah penghasilan dan juga pengalaman Boy bekerja part-time pada sebuah konsultan real estate di Inggris. Karena di nilai cukup cerdas, setelah 2 tahun menyelesaikan kuliah, boy pun di terima bekerja penuh pada perusahaan tersebut. Setahun bekerja akhirnya Boy di kirim menjadi manager projek di sebuah perusahaan pengembang yang merupakan mitra dari perusahaan real estate tersebut di Afrika Selatan, selang 3 tahun Boy di angkat menjadi continent Manager pengembang tersebut untuk mengawasih kerja perusahaan tersebut di hampir seantero Benua Afrika. Selain makin sibuk, Boy pun kini memiliki Rumah dan perabot mewah di cape town, Afrika selatan, termasuk Juga mobil dan Gaji yang cukup tinggi, namun Boy Belum Juga menikah.

Hampir setiap kali ibu dan bapanya menelpon dari Nabire, mereka tidak lupa bertanya kapan puteranya akan menikah, mereka ingin sekali menimang cucu dari anak tunggal mereka, setiap itu pula Boy lebih sering tertawa, dan terkadang mengalihkan pembicaraan, namun tidak jarang boy terdiam seperti sedang merenungkan apa yang baru saja di utarakan oleh kedua orang tuanya.

Baru beberapa bulan menempati posisi tersebut, Boy di tugaskan mengecek laporan keuangan sebuah proyek real estate dari perusahaanya yang terlilit Utang di Nigeria, sebuah negara di afrika barat dengan ibu kota Abuja. Boy berangkat lebih awal yakni pada hari sabtu. Besoknya pada hari minggu Boy mengikuti misa di sebuah Gereja Katedral di pusat Kota Nigeria, yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari hotel dimana Boy menginap.

Kebetulan Pada misa minggu itu merupakan penutupan pertemuan Tahunan suster dari berbagai kongregasi yang berkarya di benua Africa, yang di selenggarakan di Nigeria. Separuh kursi dalam Gereja di isi oleh suster-suster tersebut, lagu lagu indah di kumandangkan oleh paduan suara, suasana terasa damai. Setelah selesai misa, Boy bersalaman dengan Pastor yang memimpin perayaan ekaristi pada misa tersebut, beberapa saat berkeliling sambil memperhatikan keindahan nuansa arsitektur Goethic ala abad pertengahan eropa, yang menjadi bagian dari Katedral tersebut.

Masih di halaman gereja tak jauh dari pintu utama gereja, terdengar dua orang suster yang sedang bercakap cakap dalam bahasa Indonesia. Mendengar percakapan itu boy merasa penasaran dan mendekat ke arah kedua suster itu, dan benar mereka rupanya suster asal Indonesia yang berkarya di afrika. Boy pun mengucapkan selamat hari minggu, kedua suster kaget bukan main karena tidak di sangka dapat berjumpa dengan orang Indonesia. Akhirnya mereka bercerita banyak.

Kedua suster itu sudah hampir sepuluh tahun berkarya di Africa, salah satu suster berkarya di pengungsian Somalia, sementara satunya lagi Pembina asrama putri katolik di Ghana. ketika sedang asyik bercerita, dari arah pintu samping gereja muncul Seorang suster yang terus melangkah ke arah mereka bertiga sambil melempar tersenyum dari kejauhan. Boy memperhatikan lama suster ini dan dalam hati, Boy bertanya aku kenal senyumannya, namun tak tahu kapan dan di mana? Ketika sedang berfikir panjang, spontan suster tersebut memberikan tangan pada Boy dan menyapa: “Hi, I’am Sister Agnes Lestari, and Happy Sunday for You” setelah yakin benar dengan sosok yang kini berdiri di hadapanya Boy membalas: “How wonderfull it is, after long long time. . .  I don’t know where are you for long time, And Now I meet you here in Nigeria” manarik nafas dalam dalam sambil terus memegang tangan suster Agnes kemudian menjawab singkat “I’m Boy, The Spoiler in Nabire long time ago”. Mendengar itu Suster Agnes melompat dan memeluk Boy dengan kegirangan, sementara dua suster yang lain tersenyum lebar. Akhirnya Suster Agnes memperkenalkan Boy pada kedua teman suster tersebut, dan bercerita panjang lebar tentang siapa boy yang dia kenal pada 8 tahun yang lalu.

Setelah bercerita panjang lebar Boy kemudian tahu bahwa suster Agnes juga kini bekerja di afrika selatan di pinggiran Kota Cape Town pada cabang dari sebuah yayasan katolik internasional yang bergerak dalam perlindungan anak sebagai Direktris. Dalam hati Boy berfikir kini suster Agnes makin Manis dan sungguh berwibawah, keramah-tamahan suster Agnes pun tidak pudar termakan waktu. Selama bercerita Boy hanya diam tidak habis berfikir dapat berjumpa suster Agnes di tempat ini sunguh tak terduga, ketika boy sedang melamun berfikir tiba tiba suster Agnes berkata “boy…. karena sudah jam makan siang kami akan kembali ke biara” dan akhirnya mereka berpamitan. Dalam perjalanan pulang Boy tidak habis fikir, telah bersua dengan orang yang berjasa dalam hidupnya.

Malam harinya seperti biasa boy mengecek e-mail, dari sekian e-mail yang masuk dalam account-nya ternyata ada sebuah e-mail baru, setelah membuka baru di ketahui, ternyata e-mail dari suster Agnes, boy kaget dan bertanya dalam hati dari mana suster Agnes Tahu e-mail ku, apakah ada yang memberitahukan e-mailku kepadanya, berfikir agak lama kemudian, boy berkata sendiri “tapi ya sudahlah pasti ada yang memberikan padanya”. E-mail suster Agnes di biarkan boy coba membaca e-mail yang lainya yang berhubungan dengan kerja dahulu, setelah beres maka kini dengan agak penasaran Boy membuka e-mail tersebut:

Salam Boy saudaraku

Aku sungguh tak menyangka setelah 8 tahun akhirnya kini kita bersua di tempat yang tidak terkira, aku sungguh bangga mendengar bahwa engkau telah sukses, ini semua karya Tuhan.

Saat aku menulis e-mail ini aku sangat bahagia, tak terasa air mata terus menetes, Kesuksesanmu adalah karunia terbesar bagiku, Boy saudaraku aku telah banyak belajar ketika menghadapimu di Nabire dan mungkin karena itu kini aku di percayakan memimpin lembaga yang bergerak pada perlindungan Anak.

Sebenarnya aku telah mengetahui alamat e-mail mu dari ibumu ketika kami dalam penerbangan yang sama dari singapura menuju Jakarta, namun selalu ku urung niatku untuk menuliskan e-mail padamu, karena ku selalu yakin bahwa suatu ketika nanti kita akan berjumpa, dan benar Tuhan menjawab doaku

Kini engkau telah menjadi orang yang sukses, semua telah engkau miliki, namun dari ceritamu ku belum mendengar bahwa engkau sudah menikah, ku akan selalu mendoakan agar engkau mendapatkan pendamping hidup yang setia

Besok malam aku harus kembali ke Afrika selatan dan selanjutnya kembali ke roma karena masa karyaku di afrika selatan telah selesai.

O ya boy saudaraku sebelum terlupakan, aku ingat 8 tahun lalu setelah berulang kali janjimu kau ingkari kini tinggal 1 janjiku padamu yang harus ku tepati, apa permintaanmu saudaraku?

Cukup demikian untuk kali ini, semoga pekerjaanmu dapat berjalan baik selama di nigeria, dan Tuhan memberkatimu

 

Sr. Agnes Lestari

Nigeria

Setelah selesai membaca e-mail tersebut, Boy berdiri dan meneguk segelas air menuju ke jendela memandang keindahan malam ibu kota Nigeria sambil memikirkan isi e-mail tersebut. Setelah beberapa menit, boy mulai menyadari bahwa sudah sejak pertama kali berjumpa dengannya di Nabire boy sudah tertarik pada Agnes, kadang hal yang di lakukan juga untuk menarik perhatian sang Pembina semata, “huffttt . . . tapi kini bagaimana mungkin dia telah menjadi suster……” boy akhirnya merebahkan diri di tempat tidur memandang langit langit kamar hotel dan terus bertanya dalam hati, apakah aku berdosa jika mencintai dia saat ini, ku akui dia perempuan yang membuatku nyaman, dia dewasa, dan dia cantik seperti apa sulit ku gambarkan dia ibarat malaikat dari Surga. Lama berbaring di tempat tidur, sementara dia terus membayangkan pertemuan yang tidak terduga itu. Dalam benaknya terus berkecamuk sejumlah pertanyaan dan Akhirnya boy memutuskan untuk menyerahkan semua pada Tuhan. Tuhan pasti punya rencana dalam hidupku, seperti Ia telah membimbingku selama ini fikirnya, boy turun dari tempat tidur dan berlutut di lantai sambil meletakan tanganya di atas tempat tidur, agak hening sebentar membuat tanda salib lalu berdoa

“ya Tuhan, Syukur bagimu di tempat yang maha tinggi, aku sungguh berterima kasih, terlebih karena perjuampaanku dengan Suster Agnes, Engkau tahu persis bagaimana Hati dan fikiranku berkecamuk saat ini, Engkau tahu aku adanya. Malam ini aku mohon ampun jika rasa ini salah, namun ku yakin semua yang terjadi dalam hidup manusia memiliki maksud, engkau juga yang telah memberikan padaku rasa ini sebagai karunia, beri aku petunjuk sehingga kelak aku dapat memutuskan yang terbaik. kini ku hendak tidur, dampingi dan sertai aku dalam karya selama di Nigeria, amin”. Akhirnya boy mematikan laptop dan bergegas tidur

* * *

Setelah selesai tugasnya di Nigeria, boy pulang ke Africa selatan, tak lama setelah di Africa selatan berhadapan dengan rutinitas harinya yang super padat, kini boy mengambil cuti Paskah, tahun ini boy sudah memutuskan untuk mengajak kedua orang tuanya mengikuti misa paskah bersama di Vatican – Roma. Setelah berkemas dan juga memastikan kedatangan orang tuanya dari Nabire – Papua, serta memastikan penginapan selama di Roma, akhirnya boy pun berangkat ke Italia.

Boy tiba lebih awal sehari dari orang tuanya, besok malamnya sekitar pukul 23.00 waktu roma papa dan mamanya tiba dengan menumpang pesawat KLM melalui Amsterdam, karena perjalanan yang panjang dan kelelahan mereka tidak banyak bercerita, Boy mengantar papa dan mamanya ke kamar hotel yang telah di siapkan boy sebelumnya.

Besoknya setelah sarapan, Boy mengajak kedua orang tuanya berkeliling Negara Kota Vatikan, Malamnya boy mengajak kedua orang tuanya untuk pergi makan malam di sebuah restoran di luar kota Vatikan. Sambil menyantap makanan ala Italian boy bercerita panjang lebar dengan mereka tentang perjumpaan dengan suster Agnes di Nigeria, dalam cerita itu Boy pun mengagumi senyuman, keramahan dan kecantikan bak malaikat yang menyatu dalam diri suster tersebut. Rupanya ibunya terus memperhatikan Boy dengan sedikit batuk yang di buat buat. Boy pun tersenyum lebar dan bertanya “ada apa bu, koq dari tadi senyum saja” ibunya meraih tangan anaknya yang duduk di hadapanya dan berkata “Boy anaku, aku ini ibumu dan aku dapat merasakan sedikit dari yang kau rasa,……. ingat tidak, dulu waktu Boy masih sekolah di SMP, aku sering menemukan beberapa buku tulismu yang di dalamnya tertulis nama Agnes, saat itu aku bertanya tanya siapa Agnes, namun aku menyimpan semua dalam hati aku menganggap semua itu wajar katika kamu memasuki masa puber, Agnes pun sering bercerita tentang kamu padaku dia selalu berdoa agar kelak kamu menjadi seorang yang sukses, mmmm….lalu saat kami jumpa dalam penerbangan Singapore Jakarta dia bertanya banyak tentang dirimu, aku sebagai perempuan merasa bahwa dia berharap sesuatu darimu,…..mungkin saja dia mencintaimu namun ibu tahu kamu telah jatuh hati padanya” mendengar hal itu boy tersenyum dan akhirnya tertawa sambil sandar ke kursi, lama terdiam boy memandang ibu dan ayahnya, suasana menjadi hening, ayahnya tersenyum kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan perlahan ke arah Boy sambil menepuk bahu putranya dari belakang ia berkata “boy engkau tahu aku dan ibumu bukan pemeluk agama katolik sepertimu, kami pun tidak banyak tahu tentang aturan katolik, namun yang ayah tahu cinta pun kadang harus di perjuangkan, melintasi agama dan perbedaan lainya, kadang cinta membuat orang buta tapi cinta juga bisa membuat orang melek” Terdiam beberapa saat kemudian melanjutkan pemberbicaraan “aku ayahmu tidak seperti dirimu yang memiliki ilmu tinggi, aku dan ibumu dulu hanya berdoa agar kelak nanti engkau berubah, dan Tuhan menjawab doaku melalui Agnes, dia orang yang berjasa dalam hidupmu juga. Sekarang semua kembali padamu, aku mau tahu apakah dalam urusan ini pun kamu mampu, tunjukan bahwa kamu memang anak yang patut kami sanjung” kemudian ayahnya kembali duduk, setelah berfikir agak lama dan kemudian boy meneguk segelas air hingga habis, menarik nafas dalam dalam lalu berkata merespon pembicaraan kedua orang tuanya “ya udah aku yakin akan mampu atasi soal ini, aku pun menyerahkan semua pada kehendak Dia Yang maha Agung, aku yakin dia punya rencana yang indah”. Dan akhirnya karena sudah larut mereka kembali ke hotel

Sesampainya di kamar hotel, boy menghidupkan kembali notebook seperti biasa dia mengecek e-mail, setelah menjawab beberapa e-mail. Waktu hendak menutup notebook hati boy tergerak untuk membuka kembali e-mail dari suster Agnes dahulu, setelah membaca boy lama terdiam. Dan akhirnya memutuskan untuk membalas e-mail tersebut.

Hi Sr Agnes

Setelah perjumpaan kita di Nigeria itu aku agak sibuk sehingga tidak membalas e-mail mu, ku harap ketika membaca e-mail ini kamu dalam keadaan baik baik.

Setelah berjumpa denganmu banyak hal yang terfikirkan olehku, yang peling utama aku sungguh berbahagia dapat berjumpa dengan orang yang sungguh berjasa dalam hidupku, aku sadar tanpa doronganmu ku tidak mungkin seperti sekarang. Kini aku telah sukses karena tetesan air matamu untuk diriku.

Jujur Ku akui bahwa engkau adalah seorang perempuan yang ku sanjung sejak pertama jumpa di nabire, salah satu pertimbanganku masuk katolik ketika itu adalah agar lebih sering dapat menjumpaimu, kadang aku menjadi reseh juga agar supaya ku punya waktu cukup berdua denganmu, di nasehati olehmu.

Waktu begitu cepat berlalu, Akhirnya kita berpisah untuk waktu yang lama, selama itu pun bayangan akan perempuan seperti dirimu buat ku menahan diri untuk membangun hubungan dengan perempuan selama kuliah maupun setelah bekerja kini.

Awal ketika ku dengar engkau menjadi suster aku mulai ragu namun ketika berjumpa dirimu pada hari minggu di Nigeria, tak tahu mengapa rasa itu sendirinya hilang.

Aku Tak tahu apakah ku salah? namun ku hanya turuti rasa yang ada padaku, karena ku yakin anugerah rasa tidak mungkin di berikan Tuhan tanpa maksud.

Telah Ku simpan dengan baik apa yang engkau ucap Delapan tahun silam sambil meneteskan air mata, di samping gereja di Nabire di antara sekian teman teman misdinar ketika itu: “engkau berjanji, Suatu kelak Jika engkau dengar aku berhasil maka engkau akan datang dan mengucapkan terima kasih Padaku dan memberikan apa yang aku minta semampumu sebagai rasa syukurmu”

Saat saat ini Rasanya gambaran seluruh langit di benak sudah ku warnai dengan baik, gambaran laut di benak pun sudah ku warnai namun seluruhnya biru, aku ingin engkau memberikan warna putih sebagai awan pada biru langit dan warna putih pada deburan ombak.

Malam ini ku minta engkau menepati janji itu menjadi pendamping hidupku, melintasi tingginya angkasa raya, dan mengarungi luasnya samudera. Rasanya berat namun rasa itu yang ku gumuli selama 8 tahun

Akhirnya jika engkau bersedia aku, papa dan mama akan menghadiri misa paskah di halaman basilica santo petrus Vatican pada hari minggu pekan depan, kami akan berada di halaman sebelah kiri bersama para peziarah asal Indonesia.

Namun jika engkau merasa tidak maka aku tidak akan memaksamu untuk menyepakati maksudku seperti ku sepakati maksudmu 8 tahun lalu di Nabire

 

Saudaramu Boy

Vatican – Rome

Setelah itu dengan rasa puas karena telah mengutarakan isi hatinya Boy berbaring pulas, selama seminggu sebelum Paska Boy mengajak Papa dan mamanya, berkeliling Italy sekalian berbelanja dan juga mengunjungi pulau sisilia selama 3 malam.

* * *

Akhirnya tiba waktu yang di nanti nanti, pagi pagi benar Boy terbangun meneguk segelas Capuchino, sambil menggoyang goyangkan gelas yang ada dalam genggamanya Dia berfikir, Apakah Agnes Akan datang? Ketika sedang bertanya Tanya, tiba tiba telpon berdering, oh ternyata dari resepsionis yang mengingatkan tidak lama akan ada jemputan ke basilica. Boy pun bergegas mandi dan setelah beres, menelpon kedua orang tuanya di kamar sebelah, dan akhirnya mereka pergi basilica st Petrus untuk menghadiri misa paskah yang akan di pimpin Paus Benediktus VI. Karena tiba lebih awal mereka bertegur sapa dengan para peziarah dari Indonesia yang ada di halaman Basilica, sambil menuggu misa Pesta Paskah di mulai.

Sejak tiba boy terlihat agak gelisah, tidak tenang. Beberapa menit kemudian lonceng di menara basilica mulai berdentang, ribuan orang yang berasal dari berbagai belahan dunia telah memenuhi halaman basilica, boy pun mengajak ibu dan bapanya untuk maju sedikit ke depan, dan berdiri dari kiri ke kanan bapa, mama dan boy. Misa segera di mulai. Lagu pembukaan di nyanyikan koor dan di ikuti umat yang memadati halaman basilica.

Baru saja lagu pembukaan di nyanyikan Boy merasa bahwa ada seseorang di sampingnya, untuk memastikan boy berpaling, Melihat boy berpaling ke belakang, ibu dan papanya juga ikut melihat ke belakang, boy pun terperanjat antara kaget dan kagum antara yakin dan tidak yakin dengan sosok yang berdiri di belakangnya. Jantung boy berdetak dengan sangat cepat, telapak tangan berkeringat, dan tak mampu berkata sepata kata pun, seakan menjadi bisu.

Melihat gelagat anaknya yang terpanah lama, ibunda boy memegang tangan boy sambil tersenyum kemudian berkata dengan nada datar, “Boy apa yang hendak engkau tunggu ayo…. Ajak Agnes bergabung” Sementara itu Agnes yang sudah tidak mengenakan kap biara, dengan pakaian biasa menggigit bibirnya dan agak tertunduk sambil sesekali memandang ketiga sosok yang berdiri di hadapanya satu per satu.

Dengan agak kaku boy melangkah ke depan lalu memegang tangan Agnes dan mengajak bergabung bersama mereka, posisi mereka kini berubah Papa, Mama, Agnes dan boy. Setelah lagu pertama dan tanda salib pembuka, Boy memberanikan diri berbisik pada Agnes “terima kasih Agnes engkau membuat paskah ini menjadi lebih indah, Engkau Hadiah Paskah terindah Dari Tuhan” dan dengan senyum Manis dan mata berkaca kaca serta meremas tangan boy Agnes membalas “Boy now you’re my all in my life, Happy Easter. (#TaKiMaIbO) # T A M A T #

Sahabat Lama-ku

Kau tampak banyak berubah,
yang mereka lihat berbedah dengan yang ku lihat,
aku sungguh tak berharap kau seperti yang mereka katakan,
walau harapanku tentang dirimu tak pernah ku rawat bersamamu.
namun tidak buruk pula rasanya hari hari ku lalui tanpamu,
aku bergerak jauh dari kisah itu menerobos dinding ruang yang baru.
kebiasaan baru telah mengusir jauh mimpiku tentangmu,
salam sahabat lama ku

Call for Proposals: Research Project on Gender, Climate Change, Agriculture, and Food Security

climate change reasearch proposal

Kamis pagi 25 november 2010, sekitar pukul 09.00 WP karyawan rumah sakit mitra masyarakat (RSMM) yang terletak di jalan SP 5 atau sekitar 8 kilo meter dari kota timika itu terlihat berbedah dari biasa.

Perawat dan karyawan RSMM bersiap siap dengan sejumlah spanduk dan baliho, sebagian telah terpasang pada pintu masuk dan depan ruang serba guna RSMM, beberapa di antara mereka mempersiapkan soundsystem yang akan di pakai sebagai pengeras suara.

Sekitar pukul 10.00 wp, aksi di mulai, dalam aksi demonstrasi tersebut para perawat dan karyawan secara bergantian menyampaikan orasi, yang di selingi dengan nyanyian yang di iringi music.

Aksi karyawan ini berlangsung di halaman parkir, yang biasanya di pakai sebagai terminal transit angkutan penumpang, sebelah utara adalah ruang  jenasah atau kamar mayat, sementara sebelah selatan persis di seberang jalan adalah ruang serba guna RSMM.

Terlihat di sebelah barat masa aksi, kira kira 10 meter terlihat sebuah truk polisi yang di parkir dan sejumlah polisi tengah duduk di bawah pohon, menghindari sengatan panas matahari, sebagian lagi terlihat bercanda gurau agak jauh dari tempat aksi yakni, di samping kios milik pedagang asalah sulawaesi dan jawa yang terletak depan puntu masuk, atau sebelah timur tempat aksi

Aksi tersebut berlangsung dengan baik dan berakhir pada pukul 11.35 wp. dalam jumpa pers, juru bicara aksi tersebut Maria Kotorok atau yang sering di sapa Mey mengatakan bahwa Pelayan terhadap masyarakat akan tetap berljanan secara normal hingga tanggal 30 november 2010.

Mey juga menambahkan jika sampai tanggal  30 november  2010 tuntutan mereka tidak di tanggapi maka terhitung mulai tanggal 1 desember 2010, mereka mengancam akan melakukan aksi yang merugikan pelayanan terhadap masyarakat, yakni  menghentikan pelayanan di poliklinik dan Unit GAwat Darurat (UGD),  hal ini akan teru berlangsung sampai tuntutan mereka di terima.

Sebelum membaca tuntutan Mereka, mey menambahkan bahwa PT Freeport Indonesia harus hadir , karena perusahaan tambang raksasa tersebut adalah donator  utama bagi RSMM. Mereka menilai Lembaga Pengembangan Masyarakat Amugme dan Kamoro (LPMAK) sama sekali tidak mampu menjawab tuntutan mereka.

Selanjutnya mey yang juga kordinator aksi tersebut membacakan tuntutan lima butir tuntutan dari aksi mereka, yakni:

  1. Perbaikan sarana prasaran RSMM
  2. Peningkatan kesejahtraan karyawan RSMM
  3. Kepastian masa depan RSMM dan karyawan.
  4. Pt Freeport Indonesia menggunakan, RSMM sebagai pencitraan keberhasilan program CSR tetapi jangan kami di eskplooitasi habis habisa tampa ada penghargaan terhadap karyawan
  5. sejak tanggal satu desember karyawan dan para perawat akan mengehentikan pelayanan jika hal tersebut tidak di tanggapi

ketika di tanya wartawan seputar wacana pelanggaran HAM oelh rumah sakit RSMM yang di singgung dalam orasi sebelumnya, Mey mengakui bahwa menurut Undang undang (UU) kesehatan nomor  44 tahun 2009: pasien memikili hak dan kewenaangan, dalam mendapatkan pelayan yang terbaik.  Dia manmbahkan tetapi yang terjadi jauh dari pemenuhan terhadap HAK Pasien tersebut, Dia mencontohkan sebagai berikut:

Pasien penyakit menular telah di rawat bersama dengan pasien sakit biasa, sehingga ketika pasien sakit biasa pulang mereka membawa penyakit tambahan atau baru. Cintoh lainya Pasien  laki-laki dan peremupan harusnya di pisahkan, tidak ada isolasi, dokter memeriksa dua pasien dalam satu ruangan yang kecil, pasien di rawat di lorong antara bangsal/ di luar ruangangan perawatan, fasilitas tempat tidur yang kurang, obat obatan hampir habis, gaji karyawan hingga saat ini belum terbayar.

Menurut majamen RSMM, semua tuntutan ini telah di ajukan sejak lama tetapi hingga saat ini tuntutan tersebut tetap tidak di akomodir oleh Donatur utama atau dalam hal ini PT Freeport Indonesia.## Octo@timika

Octovianus Takimai*

 

 

Pengantar

Eskalasi gangguan keamanan di tanah Papua kian meningkat, keadaan tersebut membuat kebingungan sementara pihak di Papua. Duga menduga, tebak menebak siapa yang bermain dan kepentingan siapa yang bermain mulai merebak di segenap lapisan dan kelompok, tidak hanya menjadi buah bibir kelompok menengah ke atas tetapi juga masyarakat akar rumput (grassroots), baik asli Papua maupun pendatang yang kerap di sapa amber.

Ketika sejumlah soal itu berkecamuk, beberapa pihak justru sibuk meyakinkan kelompok-kelompok garis keras dan lunak serta pemerintah pusat akan opsi penyelesaian masalah Papua melalui jalan dialog. Kelompok ini terdiri dari sejumlah LSM, Tokoh Agama, Pengacara, Peneliti, Dosen, Pemuda mahasiswa dan perwakilan organisasi sipil lainya.

 

Upaya Dialog

Baru-baru ini LIPI menelurkan sebuah buku dengan judul Papua Road Map, buku tersebut menampilkan sejumlah soal secara garis besar sekaligus menawarkan sebuah solusi normatif yakni dialog sebagai jalan penyelesaian atas masalah Papua.

Tidak lama berselang juga telah terbit sebuah buku kecil dengan judul dialog Jakarta Papua, karya seorang Rohaniawan Papua Neles Tebay. Dalam buku tersebut juga di gambarkan bagaimana tahapan menuju dialog di bangun.

Boleh di katakan kedua buku ini saling melengkapi. Baik buku Papua Road Map maupun Dialog Jakarta Papua muncul dari sebuah kesadaran akan penting dan mendesaknya sebuah dialog di lakukan. Perlunya sebuah dialog adalah buah dari berbagai pengalaman dan penelitian atas sejumlah masalah di papua.

Dalam pertemuan dengan Pengurus besar Nahdatul Ulamah di Jakarta tanggal 29 Mei 2009, peneliti senior yang juga salah satu penulis buku Papua Road Maps, Muridan S Widjojo menjelaskan bahwa dialog yang di tawarkan adalah dalam rangka mendorong pemerintah menciptakan Papua baru.

Tentunya wacana dialog ini sedang menjadi bola liar yang bergulir di antara pemerintah, masyarakat sipil dan pihak lain yang berkepentingan, masing-masing stakeholder di harapkan turut mengambil peran sehingga dialog ini menjadi bermakna.

Apapun bentuknya, solusi demokratis adalah sebuah jalan yang kiranya perlu mendapat perhatian semua pihak dalam rangka menekan konflik antara Papua-Jakarta. Perbedaan pendapat antara para pihak baik papua maupun non-papua adalah sebuah dinamika yang wajar serta tidak perlu di hindari. Sebaliknya perbedaan ini patut di dorong dalam rangka menciptakan ruang dialektika dalam memperkaya wacana dialog yang di maksud.

Pada bagian tersebut, tahapan dialog yang di gambarkan oleh Neles Tebay adalah bagian penting yang patut di lewati guna memastikan sejumlah isu seperti yang di gambarkan oleh Tim LIPI yakni: Marjinalisasi dan diskriminasi orang papua, Kegagalan pembangunan, Kontradiksi sejarah papua dan Pertanggung jawaban atas kekerasan negara, dapat di selesaikan dengan baik.

Sejauh hal tersebut di sepakati dengan niat baik, maka bola liar dialog akan makin terkontrol dengan baik, mampu di arahkan sebagai proses pendekatan terhadap sejumlah substansi soal ada. Dengan demikian dapat mengakomodasi segalah kepentingan baik jakarta dan Papua dalam satu irama demokrasi yang bermartabat.

Tugas berat selanjutnya adalah bagaimana meyakinkan para pihak tentang pentingya dialog sebagai upaya jalan damai. Sejumlah hal yang barangkali akan menjadi kerikil dalam pelaksanaanya adalah ketidakpercayaan, keamanan, stigma, ego dan nilai tawar politik.

Sikap ketidakpercayaan Papua terhadap Jakarta sudah berlansung lama dan masih terus berlangsung hingga kini, sebut saja pada masa lalu pelaksanaan PEPERA yang harusnya di ikuti oleh seluruh rakyat Papua ternyata hanya di wakili 1.025 orang, berikut pada era otonomi khusus, sejumlah aturan yang patutnya menjadi instrumen otonomi khusus

 

Stigmatisasi

Pemberian stigma separatis bagi orang Papua adalah suatu yang lumrah. Orang papua yang berambut gimbal, kumis dan jenggot tebal di kategorikan OPM. Ungkapan serupa pernah di terungkap pada pengadilan kasus abepura berdarah di makasar 2005, ketika kapolda papua Daud sihombing di tanya seputar ciri-ciri OPM, dia mengatakan OPM adalah, orang papua yang berambut gimbal, kumis tebal. Sementara di papua banyak anak muda lebih menyukai rambut ala Bob Marley, apakah mereka OPM?

Stigma tersebut menjalar dalam semua aspek kehidupan, misalnya dalam ekonomi kerakyatan, bahwa ada wacana berkembang orang Papua tidak akan berkembang karena tingginya rasa kasih dan hidup sosial, termasuk juga orang papua tidak mengenal budaya menabung, apakah itu benar?

Selain politik dan ekonomi, pemberian stigma menjalar dalam sejumlah aspek, misalnya aspek pendidikan dan kesehatan. Sejak lama orang papua tidak menjadi prioritas dalam pendidikan, sederet alasan menjadi pembenaran atas relitas ini, diantaranya: masih di anggap bodoh dan tidak bisa bersaing dengan dunia luar, ada juga ketakutan di segelintir orang, bahwa jika orang papua berpendidikan tinggi maka mereka akan menuntut merdeka atau lepas dari indonesia, dst.

Sementara dalam hal kesehatan, sebagai daerah konflik, pelayanan kesehatan tidak berjalan maksimal, penyakit menular menjalar dengan cepat, kejadian ini di latarbelakangi oleh kurangnya upaya promosi dan preventif. Dalam beberapa kesempatan pemerintah justru menyalahkan gaya hidup masyarakat yang masih komunal dan tidak sadar akan kebersihan.

 

Rasa Percaya

Bahwa dalam kehidupan antara sesama perlu ada rasa saling percaya, sehingga harmonisasi tetap terjaga dengan baik.

Dalam hubungan antara orang papua dan pemerintah Jakarta, kepercayaan adalah hal rapuh yang yang harus di bangun dan di jaga. sebuah kepercayaan akan bermula ketika pihak yang saling tidak percaya membuka diri, mengakui kesalahan dan mau mencari jalan keluar bersama, dan proses ini hanya dapat di antarai oleh sebuah dialog.

Selama 50 tahun atau sejak ber-integrasi dengan Indonesia pada tahun 1969, ketidakpercayaan di mulai di sana, orang Papua merasa di curangi dalam referendum yang seharusnya berasaskan ”one man one vote” ternyata yang memilih hanya 1.025 jiwa dari perkiraan 800.000 penduduk pada waktu tersebut.

selanjutnya dalam pembangunan sebagai bagian dari indonesia, orang papua termarginalisasi, misalnya dalam model pembangunan Transmigrasi, kedatangan penduduk dari luar papua seperti, Jawa, Madura, Bali, NTT,NTB, di fasilitasi dengan dengan baik, baik dari peralatan, perumahan, tanah dan fasilitas dasar pendukung seperti sekolah, pasar, pelayanan kesehatan, rumah ibadah.

Sementara penduduk asli papua berada dalam situasi yang kontadiktif, sebut saja misalnya: pembangunan perumahan dan lahan garap bagi transmigrasi, menyebabkan penduduk asli harus berpindah dari tempat tinggal mereka, kalau tidak di pindahkan dengan paksa karena alasan kesetian pada aturan negara. Belum lagi mereka harus memulai membuka lahan garap baru, dan juga konflik karena berada di hak ulayat suku atau klan lain, yang kemungkinan akan menciptakan konflik horisontal di antara orang Papua. Hal ini berlansung hingga program transmigrasi pada akhir tahun 1980-an

Sejumlah pelanggaran hak asasi manusia oleh instrumen pemerintah/ negara yakni militer di tanah papua, dan sejumlah kasus itu tidak pernah di selesaikan secara manusiawi, melalui pengadilan atau pun rekonsiliasi, satu kasus yang pernah sampai di meja pengadilan adalah kasus abepura berdarah tahun 2002, yang memutuskan bebas pelaku kejahatan atas Hak asai manusia

Dan yang paling akhir adalah otonomi khusus. Otonomi khusus idealnya adalah jalan tengah antara pemerintah jakarta dan orang papua, dalam mendamaikan antara keinginan merdeka orang papua dan usaha indonesia dalam mempertahankan Papua dalam NKRI. Sayangnya kebijakan jalan tengah ini tidak lahir dari sebuah komunike bersama antara rakyat dan pemerintah. Cenderung di paksa dan kemudian segalah kewenangan di pangkas dengan dalil keutuhan NKRI

Prosesnya sama seperti bagaimana wacana dialog sedang berkembang. Dahulu, ketika bola liar otonomi khusus itu di lempar, terjadi dua fenomena, pertama orang papua yang di penuhi euforia merdeka menganggap otsus sebagai program NKRI sehingga tidak mau ambil pusing, hanya fikir merdeka. Kedua orang papua (civil society) tidak mendapat kesempatan untuk terlibat dalam memberikan ide, misalnya melalui kosultasi publik.

Beberapa saat kemudian setelah otsus benar benar bergulir, banyak orang papua mempertanyakan keberadaan dan esensi Otsus untuk siapa? di tambah dengan realitas otonomi khusus yang hanya di nikmati kalangan terbatas yang berkuasa dan kepentingan melalui koneksi tertentu.

Apapun pendapat, suka maupun tidak, mendukung atau menentang, dialog sebagai sebuah wacana sedang bergulir. Dan bahwa semua pihak harus turut memberi input dan mengontrol serta mengevaluasinya, sehingga ketika hal tersebut terjadi, maka fenomena otsus tidak terulang pada dialog

Rasa aman

Rasa aman adalah kebutuhan yang sangat mendesak untuk masuk dalam sebuah alur demokrasi atau wacana demokrasi yang hendak di bangun, siapa saja yang akan menjadi sasaran sebuah wacana mutlak di libatkan secara aktif, proses dialektika dalam demokrasi akan mengantarkan pada sebuah keputusan yang memenuhi rasa keadilan para pihak dalam dialog.

Untuk sampai pada proses demokrasi yang di wacanakan, perlu ada penciptaan situasi aman, sehingga ini proses di lalui dalam situasi yang normal, ini akan menunjukan sejauh mana proses demokrasi ini menjawab rasa keadilan pula, artinya pula tidak mengulangi sejumlah sejarah ketidakadilan pada masa lampau hingga sekarang.

Orang papua dan pemerintah harus sepakat untuk masuk pada situasi aman, dan kesepakatan ini harus di jaga oleh masing masing pihak, dengan cara menahan diri untuk masuk pada upaya provokasi dan skenario konflik.

Kesepakatan tersebut lahir pula proses dialog itu sendiri, dialog bermula sejak inisiatif dialog itu lahir hingga esensi dari persoalan yang di dialogkan di anggap selesai, karena itu dialog adalah suatu yang utuh, dan menjadi bingkai dalam sebuah penyelesaian konflik

Karena itu setiap orang papua baik secara kelompok maupun pribadi perlu melihat proses dialog ini sebagai upaya jalan damai yang bermartabat. Jika ada pendapat diluar mekanisme dialog pun perlu di bicarakan sehingga dapat di pertanggung jawabkan kepada rakyat.

Jika merasa tidak sepakat dengan upaya dialog yang sedang di dorong, adalah suatu yang wajar dalam alam demokrasi, yang terpenting adalah demi kemaslahatan semesta papua. Menjadi tidak wajar adalah tindakan kontroversi tanpa suatu landasan/angan agan, yang kemudian melakukan pembusukan terhadap proses demokrasi yang di bangun melalui dialog.

 

Konsultasi Publik Jaringan Damai Papua (JDP)

Dalam beberapa konsultasi publik yang di lakukan tim Jaringan Damai Papua (JDP) di temukan upaya upaya seperti pembusukan dan lebih dari itu penipuan kepada rakyat papua secara besar-besaran, misalnya undangan konsultasi publik dialog di sebarkan oleh sekelopok anak muda papua beserta dengan buletin yang isinya tentang janji bahwa bulan Agustus 2010 akan ada referendum bagi papua dan CD Video perjuangan papua merdeka dengan harga Rp. 100.000.

Konsultasi publik dialog bukan ajang janji, tetapi sejatinya adalah ruang explorasi pendapat sekaligus pendidikan demokrasi bagi rakyat tentang bagaimana melakukan sebuah demokrasi, sekaligus dengan membangun kepercayaan dalam perwakilan yang di percaya untuk berbicara. Hal seperti menjadi Investasi berharga dalam proses hidup bermasyarakat dimana dengan mekanisme serupa orang atau kelompok orang dapat menyelesaikan persoalan mereka, upaya membangun jalan damai dalam kelaur dari masalah.

Ketika ada kepercayaan pada seseorang yang mereka tunjuk misalnya dalam konsultasi publik maka pada pada saat yang sama orang terpercaya melakukan mandat, berbicara sesuai dengan apa yang di sampaikan tanpa menambah atau mengurangi.

Di sejumlah daerah yang barangkali mengalami degradasi kepercayaan maka hal seperti ini patut di mulai dalam menumbuhkan kembali kepercayaan. Ruang ruang dialog sudah sepantasnya di buka dari kota hingga ke pelosok pelosok kampung, boleh jadi dengan mendirikan forum diskusi rakyat, dengan itu pula keputusan kolektif rakyat akan lahir tidak saja untuk hal besar tetapi dalam kehidupan kampung, seperti kebersihan, pembangunan, pendidikan.

Semakin orang berjumpa dan berbicara secara terbuka, maka bersamaan dengan itu pula kepercayaan lahir beserta dengan legitimasi atas permufakatan. Hal seperti ini menjadi penting guna meminimalisir sejumlah tindakan atas nama yang kerap di lakukan elite/perseorangan.

Rakyat harus di ajarkan bahwa kekuasaan ada pada mereka, sehingga mereka pula yang memutuskan masa depan mereka, tugas kaum terpelajar adalah mengantarai pendapat rakyat dengan mekanisme dalam proses yang lebih lanjut, penting bagi kaum terpelajar menjaga agar pendapat rakyat itu mencapai sasaran.

Tentu dalam perjalanan pendapat itu berhadapan dengan halangan dan rintangan, di situ pula tugas kaum terpelajar memungsikan keterpelajaranya dalam menjaga agar ide dasar rakyat terjaga dan tercapai.

Suatu capaian dari ide kerap berhadapan dengan sejumlah jalan, masing masing jalan memiliki keunggulan dan kekurangan, di situ sebuah strategi menjadi penting, bagaimana kemasan isu itu mampu terakomodir, dan sampai tujuan.

Proses ini pun harus terjelaskan kepada rakyat secara rasional sebagai bentuk pertanggung jawaban atas mandat/kepercayaan dari proses yang hendak atau sedang di lalui. Dengan demikian rakyat ikut terlibat secara moral. Menyadari hal itu Tim JDP dalam sejumlah konsultasi publik tidak menjanjikan hasil tetapi lebih memperlihatkan sebuah proses yang hendak di lewati.

 

Penutup

Bahwa Papua baru sebagai sebuah konsep yang ada dalam masing masing orang atau kelompok tentu berbeda. Perbedaan adalah sebuah keunikan agung manusia yang tidak perlu di perdebatkan, justru yang perlu di perdebatkan adalah tindakan dalam mengaliri konsep tersebut.

Upaya mengaliri ini sudah barang tentu di hadapkan pada sejumlah pilihan, pilihan tersebut di antaranya seperti: referendum, dialog, perang, perundingan, dst. Semua ide itu memiliki titik lemah dan kuat, yang hanya dapat di mengerti dengan mendalaminya.

Apapun pilihan yang di ambil kemudian sebagai jalan keluar adalah baik adanya, selama jalan itu tidak justru menghancurkan capaian yang hendak di tuju, dan yang terpenting adalah saling menghargai atas masing masing inisiatif yang sedang di dorong.

Jaringan Damai Papua telah memilih jalan dialog damai sebagai proses penyelesaian masalah atas di Papua dalam rangka mencapai ”Papua Baru” Semoga….!

 

*Penulis adalah Aktivis Jaringan Damai Papua (JDP), tinggal di Timika – Tanah Papua.

 

Note: Tulisan ini adalah pendapat pribadi

Octovianus Takimai*

Pengantar

Terdapat sebuah hipotesa bahwa, daerah yang penuh dengan sumber daya alam adalah daerah konflik, belajar dari sejumlah pengalaman yang terjadi hampir di seluruh belahan dunia bahwa hipotesis tersebut hampir pasti menjadi sebuah teori.

Sebut saja sierra leone (Africa) yang kaya akan berlian, Ethiopia (Africa) yang kaya akan emas, sekarang telah menjadi daerah miskin karena kekayaan mereka di keruk habis, dan masyarakat hidup dalam konflik antara suku, sehingga waktu untuk berkembang lebih maju dalam pembangun tidak terjadi, akhirnya tidak pertumbuhan tenaga produktif.

Kehadiran Investasi

Kehadiran investasi seperti: pembukaan perkebunan, pertambangan, Hak Penebangan Hutan (HPH), dan jenis usaha lainya yang sedang menjadi trend dalam era otonomi di Indonesia dan otonomi khusus di Papua tidak serta-merta menjadi berkat bagi rakyat setempat, lebih banyak menjadi malapetaka terutama terhadap keberadaan masyarakat adat yang masih bergantung pada alam secara langsung pada alam (hutan, laut, rawa, sungai, danau, dst) sebagai sumber mata pencaharian utama.

Arus Investasi Investasi sebagai salah satu bentuk ekonomi pasar bebas, mengalami peningkatan yang luar biasa di negara berkembang, hal ini di akibatkan oleh keterdesakan ekonomi negara berkembang dan juga expolitasi pasar yang di lakukan oleh negara maju, serta perusahaan nasional yang berkolaborasi dengan modal asing dalam expansi pasar.

Investasi sendiri menurut luas expansinya terbagi menjadi dua: invetasi asing dan investasi lokal. Invetasi asing lebih banyak bergerak pada investasi modal, yang di salurkan melalui sistem bagi hasil antara perusahaan asing dan lokal, selain itu melalui penanaman modal pada perusahaan Trans-nasional dan multinasional.

Sementara invetasi lokal ini terbagi lagi menjadi dua:

  • pertama invetasi oleh perusahan berskala nasional dan
  • kedua investasi berskala lokal, atau daerah yang wilayah invetasinya di provinsi dan kabupaten, yang lingkupnya lebih kecil dan cenderung menjadi perpanjangan tangan dari komparador nasional dan internasional.

limbah tailing freeport

Otonomi Khusus Pro investor

Paska otonomi khusus investasi modal lebih mengarah pada penanaman modal yang berkolaborasi dengan perusahaan nasional atau lokal, hal ini guna mempermudah masuknya arus modal ke daerah. Di papua misalnya, explorasi yang di lanjutkan exploitasi oleh PT Freeport di Timika – Papua sejak 1974, pun mengalami beberapa kegagalan permanen yang berbuntut pada penghilangan Hak masyarakat adat.

Beberapa kegagalan tersebut adalah:

  • Pertama: masuknya perusahaan ini tidak melalui sebuah proses perjanjian yang tidak melibatkan masyarakat adat setempat (pemilik Hak Ulayat), tetapi hanya pemerintah dan pihak investor.
  • Kedua: penguatan keamanan di sekitar areal investasi, tujuan dari penguatan ini sekaligus sebagai bisnis militer negara dan dengan dalih mengantisipasi gangguan keamaanan akibat rasa tidak puas masyarakat atas tidak terlibatan masyarakat adat dalam hal kontrak karya.
  • Ketiga: menciptakan konflik antar masyarakat dengan berbagai dalih, sekedar mengalihkan perhatian masyarakat, dengan demikian perusahaan dengan leluasa melakukan exploitasi sumber daya alam.
  • Keempat: intervensi pihak investor dalam membentuk badan lembaga adat, dan sekaligus duduk sebagai donator tetap, dengan demikian arah berfikir dapat di kontrol, sekaligus menjadi agen kesadaran semu, yang kemudian mematikan semangat juang akan kesadaran Hak atas tanah.

lahan kepala sawit di Arso, Kab Keerom, Papua

Hal-hal seperti ini terus di praktekan hingga dewasa ini, misalnya masuknya coorporasi milik Arifin Panigoro di Merauke, rencana pembukaan lahan kelapa sawit di sejumlah daerah di papua oleh PT Sinar Mas, yang bekerja sama dengan CNOOC dari china dan di dukung dana dari Jerman.

Masuknya coorporasi tersebut di percepat dengan adanya kebijakan nasional Otonomi daerah yang mewajibkan daerah harus mandiri dan mencari pembiayaan sendiri. Masing masing daerah mulai berlomba mencari investor tanpa memperdulikan imbas terhadap masyarakat

sehubungan dengan itu, terdapat beberapa model yang lazim di lakukan oleh pemerintah daerah:

  • Pertama: pemerintah membuka pintu seluas mungkin bagi masuknya investasi, dalam rangka itujuga sejumlah hal yang di anggap sebagai penghalang di bersihkan terlebih dahulu, misalnya seperti membayar sejumlah kepala suku/ tua adat/ kadang juga pimpinan gereja, atau siapa saja yang kemudian dapat mempengaruhi opini dalam masyarakat.
  • Kedua: mengeluarkan sejumlah uang dari kantung APBD guna membiayai hal hal yang seharunya menjadi tanggung jawab perusahaan, misalnya ganti rugi atas tanah, memjadi fasilitator antara perusahaan dengan orang terpilih dalam masyarakat setempat.
  • Ketiga: karena investasi asing yang masuk harus menggandeng perusahaan local, maka di dorong sebuah perusahaan local yang pada umumnya di pimpin oleh keluarga dekat lingkaran pimpinan daerah, sebagaiperusahaan papan nama(nepotisme).

Pemerintah Menjadi Musuh rakyat

Dengan memperhatikan keberpihakan pemerintah yang lebih memilih lebih menjaga kepentingan pihak pemodal di banding masyarakat setempat yang harus di lindungi. Sementara di lain sisi pihak keamaanan yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, justru menjadi penjaga modal di banding penjaga warga negara.

Dengan demikian musuh rakyat tidak hanya pihak invetor tetapi juga pemerintah yang melanggar hak kepemilikan rakyat atas sumber daya, dan pihak keamanan negara yang menjaga mesin pembunuh rakyat di atas hak.

Dua keadaan ini menandakan tidak adanya kedaulatan rakyat dan negara terhadap kedaulatanya sendiri, hal ini yang kemudian di kenal dengan model penjajahan baru atas masyarakat adat dan identitas serta seumber daya dan warisan budaya yang ada.

Semakin tidak ada gerakan rakyat yang menentang upaya deligitimasi masyarakat adat, maka dengan itu pula penindasan makin besar. Maka dengan itu ada beberapa hal yang perlu di lakukan oleh gerakan rakyat yakni:

  • Pertama: Menolak segalah macam bentuk investasi yang tidak melibatkan masyarakat pemilik hak ulayat dalam sebuah kontrak yang adil dan bermartabat.
  • Kedua: Perlu di lakukan pemetaan tanah adat atas nama komunal, tidak atas nama seseorang yang kemudian mempermudah proses negosiasi dengan pihak investor, dengan pemetaan atas nama komunal ini, keputusan yang lahir adalah keputusan bersama bukan sepihak oleh seseorang.
  • Ketiga: Mengingat tanah sebagai modal dan warisan pada anak cucu maka, tanah ulayat tidak perlu di jual, melainkan di sewakan dengan sejumlah jaminan kesejahteraan dengan mempertimbangkan masa depan anak cucu.
  • Keempat: Menolak upaya peralihan dari tanah adat pada tanah milik negara, dengan asumsi tanah dan masyarakat telah ada lebih dahulu sebelum berdiri sebuah organisasi legal yang bernama Negara.
  • Kelima: menolak kehadiran alat negara (TNI & POLRI) sebagai penjaga investor, melainkan mengembalikan alat negara ini pada fungsinya sebagai pelindung rakyat, sekaligus rasionalisasi alat negara tersebut.

Penutup

Catatan ini kiranya menjadi buah fikiran yang perlu di gali secara mendalam dan kritis sehingga, perlindungan penguatan masyarakat adat menjadi menjadi tanggung jawab demi identitas bangsa, semoga

*orang papua, tinggal di papua

Octovianus Takimai*

 

Terlihat sekelompok anak kecil telanjang dada berkejaran di bahu jalan, terkadang masuk badan jalan sambil tertawa, tidak jauh dari situ terdapat sederetan kios milik pedagang pendatang asal jawa dan sulawesi dan di sebelah kanan terdapat perkampungan penduduk, rumah rumah panggung terbuat dari kayu yang berjejer rapi, sebelah utara terdapat beberapa tank penampungan minyak milik seorang saudagar minyak yang cukup terkenal.

Orang mengenal kampung ini dengan sebutan kampung asmat namanya, terletak di selatan kota timika kabupaten mimika, disebut kampung asmat karena penghuni daerah ini adalah suku asmat. Sudah sejak lama mereka berada di sana, awalnya hanya tempat singgah bagi orang asmat sebelum masuk kota timika, tetapi lama kelamahan menjadi perkampungan tetap penduduk asal kabupaten asmat.

Kampung ini terletak di atas rawa bakau, sebelah timur terdapat sungai besar yang berwarna coklat dan sudah barang tentu tidak layak di konsumsi, di pojok-pojok rumah terlihat beberapa drum penampungan air hujan yang menjadi sumber air bersih, artinya jika tidak turun hujan maka sumber air bersih habis dan terpaksa penduduk di sana minum, masak dan mandi dari air rawa payau.

kampung asmat adalah sebuah kampung dalam wilayah kabupaten mimika, sebuah kabupaten penghasil emas terbesar kedua di dunia yang di kelolah PT Freeport Mc Morran yang beraffiliasi menjadi PT Freeport Indonesia (PTFI) pada tahun 1992 melalui sebuah kontrak karya ke II , PTFI merupakan perusahan dengan pajak terbesar di indonesia sejak tahun 1967.

Suku asmat adalah salah satu dari tiga suku besar yang mendiami wilayah pantai selatan tanah papua bersamaan dengan suku Marind dan kamoro. Sementara suku kamoro adalah pemilik hak ulayat atas tanah yang di tempati suku asmat di kampung asmat.

Kampung asmat terletak dekat dengan pelabuhan laut kabupaten mimika (Poumako), sampai saat ini belum ada soal serius antara penduduk kampung asmat dan pemilik hak ulayat yakni suku Kamoro, kedua suku ini pada masa lalu hidup berpindah-pindah (nomaden) dengan bergantung pada kebutuhan pangan seperti sagu, kerang, dan ikan

Paska masuknya PT Freeport dan modernisasi yang tercipta kemudian, daerah ini medan sekitarnya mengalami perubahan drastis dalam hal mata pencaharian dan sumber hidup berupa, sagu, ikan, dan kerang yang jadi hidangan harian berkuarang secara jumlah dan semakin sulit di dapat, hal ini di akibatkan oleh limbah indistri, pada akhirnya masyarakat yang mandiri secara perlahan tergantung kepada PT Freeport dan Pemerintah Daerah setempat, berbagai bantuan yang di berikan oleh PT Freeport seperti uang hanya bersifat taktis dan sementara.

Sebuah pemandangan yang tidak lazim di sana adalah Tingkat kurang gizi (malnutrisi) yang sangat nampak dengan jelas pada anak anak yang di temui di badan jalan, dan sejumlah balita yang di gendong oleh ibu mereka, daerah tersebut masih masuk areal operasi PT Freeport Indonesia, begitu besar dana yang di hasilkan dari penjualan Emas, tetapi sangat ironis hasil yang di nikmati penduduk asli adalah kekurangan gizi dan sejumlah penjakit endemik seperti, malaria, penyakit lainya seperti penyakit kulit, diare, TB paru, ispa dan HIV/ AIDS.

Untuk HIV/AIDS Kabupaten Mimika menduduki rangking pertama di Papua dengan jumlah mencapai 1.182 kasus di susul merauke dengan 883 kasus. Sementara Tingkat prevalensi atau temuan penularan AIDS di indonesia yang paling tinggi berada di Provinsi Papua mencapai 81,02 di susul DKI Jakarta (34,27), Bali (25,49), Kepulauan Riau (Kepri/20,53), Kalbar (18,76), Maluku (12,02), Papua Barat (10,24), Bangka Belitung (7,27), Sulawesi Utara (6,30), dan Jawa Barat (5,22). (Sumber: KPA 2008)

kasus kurang gizi pada balita di distrik duma dama, paniai

Papua sinyal darurat Kesehatan

Gambaran di atas satu dari sekian cerita keadaan nyata lapangan masyarakat asli papua yang sedang menuju kehancuran dari segi kesehatan, tulisan ini tidak hendak memojokan satu pihak tertentu baik itu pemerintah, LSM, Perusahaan atau pula rakyat. sebaliknya hendak melihat secara objektif keadaan rakyat terutama yang berada di pelosok terpencil yang jauh dari sentuhan pembangunan dan pelayanan kesehatan.

Dari laporan lapangan kader DKR di 19 Kabupaten dan satu kota se-Provinsi Papua di simpulkan sekitar 75 persen pelayanan medis pemerintah, yakni Rumah Sakit, Puskesmas, dan Pustu tidak bekerja maksimal, ada yang sudah tidak beroperasi bahkan sampai tidak ada sama sekali

Jenis Penyakit yang di derita di beberapa daerah juga sangat di pengaruhi oleh karakteristik daerah, Secara umum penyakit yang di derita di wilayah selatan provinsi papua yang pada ummnya secara geografis adalah daerah rawa adalah kurang gizi, diare, kholera, cacingan, malaria, dan HIV/AIDS sementara di wilayah pegunungan tengah atau daerah pegunungan dan lembah adalah kurang gizi, diare, kholera, muntaber dan HIV/AIDS. dan di wilayah utara, kurang gizi, muntaber, diare, kaki gajah, cacingan, malaria dan HIV/AIDS

Di samping panyakit endemik Pemanasan Global memiliki efek yang cukup signifikan bagi penyebaran dan perluasan penyakit dan bencana alam di Papua, di wilayah pantai utara dan selatan seperti di laporkan  kader DKR Biak Numfor, Sarmi, Nabire, Merauke bahwa terjadi air pasang akibat badai yang melewati batas pantai hingga mencapai rumah penduduk yang mengakibatkan pergeseran rumah penduduk ke tempat yang lebih tinggi. Persoalan tidak berhenti di situ, Papua sebagai wilayah yang masih memegang teguh adat istiadat termasuk hak ulayat, dalam kasus ini muncul pula persoalan menyangkut lahan garab yang pada umumnya adalah tanah adat dari klan, marga atau suku.

Di wilayah pegunungan tengah seperti distrik jila, salah satu distrik dari kabupaten Mimika yang berada yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Puncak pada ketinggian 4000 kaki dari permukaan laut, di distrik telah di temukan adanya penyebaran penyakit malaria, sebuah penyakit endemik yang hanya terdapat di wilayah dataran rendah dan bersuhu panas seperti wilayah selatan dan utara, artinya telah terjadi peningkatan suhu bumi yang mengakibatkan trans-penyakit ke daerah mana penyakit ini dapat menyesuikan diri dengan lingkungan sekitar.

Program Save Papua

Program ”Save Papua” yang di gembar-gemborkan pemerintah dan LSM seperti pelayanan kesehatan gratis bagi seluruh rakyat papua sebagai wujud keprihatinan harus benar menjawab situasi yang memprihatinkan ini.

Jauh sebelum ulasan ini di kembangkan ada hal yang perlu di jawab adalah sebuah pertanyaan mendasar yakni pertama mengapa program ini bernama ”save papua”,  bukankah ”care papua” atau ”special health for papua” cukup seksis di pakai, Kedua apakah benar penduduk asli Papua sudah pada taraf yang mengkhawatirkan sehingga harus di lingdungi, ketiga mungkinkan sebuah kepunahan sedang menanti jika tidak di cegah dari sekarang, keempat apakah keprihatinan serupa juga tumbuh dalam kalangan pejabat pemerintah di tanah papua? Semua pertanyaan boleh di kembangkan

Pendataan yang di lakukan oleh kader DKR Provinsi Papua sampai saat ini mulai samar terlihat sebuah sinyal keterpinggiran, kehilangan dan kepunahan. tiga hal yang menggambarkan bagaiman hak asasi masyarakat papua dalam bidang kesehatan terabaikan

Tiga hal ini sebuah tahapan akan kehilangan akan Hak asasi manusia dalam bidang kesehatan, Keterpinggiran berbanding terbalik dengan prioritas pembangunan 25 tahun otonomi khusus (otsus), salah satu sasaranya adalah bidang kesehatan, sudah hampir 8 tahun era ini berlangsung, tidak ada hasil atau kemajuan yang meyakinkan. Pemekaran yang konon memperpendek rentan kendali pemerintah dalam pelayanan, dalam kenyataanya di bidang kesehatan hanya memperluas dan memperbesar ruang korupsi dana kesehatan dalam birokratis, banyak puskesmas dan pustu macet alias tidak ada aktifitas, paling parah lagi belum ada faslilitas kesehatan, sehingga masyarakat di daerah terpencil sakit tidak tertolong dan menunggu ajal

Dana otonomi khusus di arahkan pada pembelanjaan dan habis dalam tender proyek yang tidak mencapai esensi pelayanan yakni pemenuhan Hak asasi Manusia, dengan demikian patutdi pertanyaakan kemana dana kesehatan selama ini sehingga sekian tahun pemenuhan hak sehat itu tidak tercapai, sebagian masyarakat hidup di kampung dan sebagian besar itu yang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan

Jauh sebelum program save papua direalisasikan pemerintah harus mampu memutuskan rantai birokratis yang korup, supplier dan penyedia peralatan medis dan obat-obatan yang korup, pelayanan kesehatan maksimal yang menjangkau setiap orang papua di mana saja berada dengan mengaktifkan kembali puskesmas, pustu, posyandu dan peran swadaya rakyat melalui pembangunan kampung siaga serta mencari solusi atas sederet persoalan lainya.

Penutup

Jika sistem-sistem tersebut masih bercokol, selama itu pula program ini hanya menjadi libs sevice dan kampanye dalam rangka kanalisasi penderitaan rakyat papua, sama seperti berbagai program sebelumnya yang bernilai milyaran bahkan triliunan yang di tujukan pada pemberdayaan masyarakat kecil yang pada kenyataanya sama sekali tidak menyentu kebutuhan sehat rakyat, dana-dana rakyat selama ini banyak habis dalam sejumlah workshop, seminar, konferensi tenaga terlatih yang sepatutnya hanya di berikan petunjuk pelaksanaan (juklak), artinya terjadi pemborosan dan dana tidak tepat sasaran.

Hal yang juga patut di perhatikan adalah bahwa rakyat yang akan dijadikan sasaran program adalah bukan wadah tampa isi, misalkan dalam penanganan bencana dan sejumlah penyakit endemik yang sudah lama ada, sehingga yang di perlukan adalah memperbaharui metode dengan cara yang lebih moderen, efektif dan efisien, penanganan dini, serta memperpendek jarak pelayanan medis. Semoga !!!

* orang papua, tinggal di papua

About Miyeda

Tentang Nama
MIYEDA adalah nama dari moyang leluhur saya, di namakan miyeida karena menurut hikayat, dia melalui sebuah Gunung di kampung saya yang bernama Miyepa.

pada masa lalu miyepa adalah kebun sekaligus perumahan, dan juga pernah menjadi arena perang.

Di puncak gunung Miyepa, terdapat hamparan tanah datar berbentuk lapangan, tempat ini oleh warga sekitar di kenal sebagai tempat bermain-nya Roh yang di percaya menjaga tanah, hutan air, alam serta manusia.

Menurut orang tua, pada masa lalu kerap terdengar keramaian pada pagi dan sore hari, sering pula mereka memanggil nama dari orang yang sedang melintas.

Gunung Miyepa
tanjakan keiday yang melelahkan

Ayah saya lahir dan besar di kaki gunung ini, banyak cerita yang saya dapat dari ayah saya, tentang bagaimana gunung dan alam sekitar adalah sumber kehidupan.

Akhirnya saya jadi sering bepergian ke kampung dan mulai mencitai kampung dan gunung ini sebagai warisan Tuhan yang mulia.

Suatu ketika, pada bulan oktober 2008, saya mengunjungi lagi tempat ini, dengan beberapa kawan kami mendaki gunung ini, mereka menunjukan sejumlah tempat, sakral, kebun, sumber air, bekas rumah dari keluarga saya, dan kami juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah tempat indah.

Terima kasih Tuhan karena engkau ijinkan saya lahir kedunia sebagai orang papua dalam sebuah kelaurga sederhana yang berasal dari suku MEE.

Mengapa Miyeda
bahwa nama ini telah menyatu dalam perjalanan hidup saya mulai dari ketika saya di lahirkan hingga saya mulai dewasa dan terus belajar memahami dan mencintai Tanah leluhur sebagai warisan budaya yang tak ternilai.

miyeda ini secara harafiah dapat di artikan “melalui Gunung Miyepa” ada sebuah nilai yang mengantarkan saya memilih judul ini adalah, saya adalah orang yang berasal dari etnis mee yang menepati kaki gunung ini, dan sekarang keluar dari tempat ini karena sebuah kehidupan.

sebagai seorang yang sedang dan terus belajar, saya tidak lupa pada pada budaya Mee, belakangan ada keinginan kuat untuk lebih mendalami itu, karena saya menyadari ada kemunduran dan kadang terjebak dalam penfsiran yang politis, yang artinya tercerabut dari akar budaya yang sesungguhnya.

bahwa dahulu kala gunung Miyepa di kenal sebagai tempat bersemayam roh penjaga alam, saya sungguh sangat yakin bahwa mereka itu tidak hilang bahka musna hingga saat ini, penggunaan nama ini sekaligus sebagai bentuk kepercayaan pada Roh leluhur dan upaya melibatkan mereka dalam hal spritual yang dalam.

barangkali seperti itu landasan pemikiran kenapa kemudian nama MIYEDA ini menjadi penting dan saya gunakan…… salam !!!

Manusia sebagai Mahluk berakal membuatnya berbedah dengan mahluk lain sekitar.

akal budi yang ada pada manusia, membuatnya mampu menciptakan peradaban yang unik

namun keunikan itu makin tidak berharga, manusia sebagai pencipta peradaban seakan bernilai sama dan setara dengan benda yang di ciptakan oleh manusia sendiri

manusia menjadi tak bernilai justru karena di samakan dengan benda lain yang tak berakal budi. gampang saja di hilangkan tanpa maaf, ataupun sesal.

timika, 10 desember 2010